• Februari 5, 2024

Kasus Penyakit Kanker di Dunia Diprediksi Naik Dua Kali Lipat pada 2050

WHO memprediksi persoalan penyakit kanker keseluruhan dari situs depo 10k semua dunia dapat mengalami kenaikan sampai 35 juta persoalan terhadap 2050. Angka itu mengalami kenaikan 77 prosen dibanding prediksi terhadap 2022.

Proyeksi itu dipublikasi terhadap Kamis, 1 Februari 2024, oleh badan di bawah WHO yang bernama International Agency for Research on Cancer (IARC). Dalam laporan IARC disebutkan, pemanfaatan tembakau, konsumsi alkohol, obesitas dan buruknya kualitas hawa telah menjadi aspek pemicu utama naiknya prediksi persoalan penyakit kanker terhadap 2050.

“Lebih dari 35 juta persoalan kanker diprediksi berjalan terhadap 2050,” demikian laporan IARC yang diunggah ke website mereka. Angka prediksi ini lebih tinggi 77 prosen dibanding prediksi terhadap 2022 yang lebih kurang 20 juta diagnosa.

Laporan IARC itu berdasarkan data dari 185 negara dan 36 type kanker. Pada 2022, ada lebih kurang 9.7 juta kematian akibat kanker keseluruhan di semua dunia. Sekitar satu dari lima orang diperkirakan terkena sakit kanker didalam hidup mereka. Satu dari sembilan laki-laki meninggal karena sakit kanker dibanding perempuan yang perbandingannya satu banding 12 meninggal karena kanker

“Tumbuhnya beban kanker secara global mencerminkan populasi umur tua dan pertumbuhan populasi dan juga perubahan orang-orang yang terpapar sejumlah risiko terhadap penyakit kanker. Beberapa aspek risiko itu perihal dengan pertumbuhan sosial-ekonomi,” demikian keterangan IARC, perihal temuannya.

Data IARC termasuk mengungkap diganosa kanker mampu bergantung terhadap tempat di mana orang yang sakit kanker itu tinggal. Sebab salah satu tantangan terbesar yang keluar adalah naiknya beban kanker terhadap grup penduduk berpenghasilan rendah dan negara-negara berkembang.

Kepala IARC Freddie Bray terhadap Kamis, 1 Februari 2024, menjelaskan diprediksi beban (kasus penyakit kanker) naik lebih dari dua kali lipat terhadap 2050. Banyak negara-negara di dunia pas ini tidak punyai memadai kesiapan didalam menghadap persoalan penyakit kanker.